HALUANRAKYAT.com, SINTANG — Musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino membawa dampak berat bagi Mulyono (56), warga Dusun Kesepuk, Desa Lengkong Bindu, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Kebun karetnya seluas sekitar dua hektare dengan 800 pohon berusia delapan tahun terbakar.
Kebakaran tersebut terjadi pada siang hari saat Mulyono tengah menyaksikan peringatan Hari Kemerdekaan pada Agustus 2026. Karena lokasi kebun cukup jauh, api tidak sempat diketahui dan ditangani oleh pemilik lahan.
Ketua Kelompok Penyuluhan dan Pengendalian Satgas Karhutla TNI wilayah Kayan Hilir, Kolonel Arh Saptarendra P, mengatakan kebakaran menghanguskan seluruh tanaman karet milik Mulyono.
“Lahan berisi 800 pohon karet terbakar di siang hari. Waktu itu Pak Mulyono sedang menonton peringatan Hari Kemerdekaan,” ujar Sapta, Minggu (7/9/2026).
Menurut Sapta, kebun tersebut sulit diselamatkan karena jaraknya relatif jauh dari permukiman. Namun, kebakaran tidak sampai meluas ke lahan lainnya berkat kesigapan warga Dusun Kesepuk yang membuat sekat dan memadamkan api menggunakan peralatan yang tersedia.
“Karena jaraknya relatif jauh, maka lahan yang bersangkutan dapat dikatakan tidak dapat ditolong dan tidak dapat menghasilkan kembali,” tambahnya.
Sapta menjelaskan, kondisi tanaman karet berbeda dengan kelapa sawit. Pohon sawit yang mengalami kebakaran masih memiliki peluang untuk kembali produktif setelah mendapatkan perawatan, setidaknya selama satu tahun.
“Sungguh kasihan. Dari pengakuannya hanya berharap dari karet karena selain tidak memiliki kebun sawit, ladangnya pun belum bisa diolah karena musim kemarau panjang akibat El Nino,” tandasnya.
Sapta mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan api, terutama di tengah kondisi kemarau. Menurutnya, kelalaian dapat menimbulkan kerugian besar, bukan hanya bagi pelaku, tetapi juga masyarakat lain yang lahannya terdampak.
Dalam kegiatan anjangsana tersebut, Sapta didampingi anggota Satgas Karhutla TNI, Kolonel Laut (KH) Chumaidi dan Kolonel Kes Robi Mandolin.
Sementara itu, Mulyono mengaku hanya mengandalkan penghasilan dari menyadap karet dan berladang padi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Saya hanya mengandalkan dari hasil menyadap karet dan berladang padi,” ujar Mulyono dengan lirih.
Akibat kebakaran tersebut, Mulyono berharap pemerintah memberikan perhatian dan bantuan kepada dirinya sebagai korban kebakaran lahan.
“Dengan kebakaran ini, hanya bisa berharap adanya bantuan dari pemerintah terhadap kami yang jadi korban,” katanya.
Mulyono mengaku hingga kini belum mengetahui siapa yang menyebabkan kebakaran tersebut. Kebakaran yang terjadi pada siang hari itu juga membuat dirinya kesulitan menentukan pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban.
“Meski terjadi siang hari, kami tidak tahu pelakunya dan kepada siapa harus minta ganti rugi,” tegasnya.
Ia menyebut, berdasarkan adat setempat, pelaku pembakaran dapat dikenakan sanksi adat yang disesuaikan dengan jumlah pohon yang terbakar. Dari informasi yang diterimanya, nilai ganti rugi adat untuk setiap pohon karet yang terbakar mencapai sekitar Rp150 ribu.
Dengan jumlah sekitar 800 pohon yang terbakar, kerugian yang dialaminya diperkirakan mencapai Rp120 juta.
Di sisi lain, Mulyono juga belum dapat kembali mengolah ladang padi miliknya. Musim kemarau membuat proses menugal atau menanam padi harus ditunda hingga hujan turun.
“Ladang padi juga belum bisa menugal karena masih tunggu musim hujan. Kalau tidak hujan, maka kami pun tidak bisa menanam padi,” pungkasnya.