HALUANRAKYAT.com, KENDARI -- Masyarakat di beberapa wilayah di Sulawesi Tenggara pada Sabtu (11/4/2026) malam dihebohkan dengan penampakan benda asing di langit.
Benda itu dilaporkan terlihat di Wakatobi, Buton Tengah, Kolaka, Kolaka Utara dan Kolaka Timur sekitar pukul 19.50 Wita.
Benda terbang itu menyerupai roket yang menyala pada bagian buritannya. Terlihat pula benda itu mengeluarkan asap putih tebal.
Haluanrakyat.com menghubungi otoritas terkait untuk meminta penjelasan perihal benda asing tersebut.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin mengatakan, benda tersebut bukan merupakan objek antariksa.
Hal itu dikatakan Thomas usai menganalisa sampel-sampel video yang dikirimkan Haluanrakyat.com via layanan pesan singkat WhatsApp.
"Tampaknya bukan objek antariksa karena kecepatannya rendah. Gambar dengan ukuran sudut yang lebar, relatif terhadap bintang-bintang latar belakang, itu menunjukkan objek yang relatif dekat. Ekor yang berkelok menunjukkan ada pengaruh atmosfer. Artinya, itu bukan objek antariksa," beber Thomas.
Setelah melakukan pemeriksaan mendalam, Thomas berkesimpulan, benda itu merupakan roket milik Republik Rakyat Tiongkok atau Cina.
"Sudah saya periksa. Itu peluncuran roket ChinaSmart Dragon-3 atau Jielong-3 pada 11 April 2026 pukul 18.32 WIB (19.32 WITA) dari sistem peluncuran di laut," imbuh Thomas.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, roket iu terlihat dari wilayah Sulawesi Tenggara karena memang lintasannya melewati langit Indonesia.
"Lintasannya melewati Indonesia. Jielong adalah roket berbahan bakar padat yang meluncur sampai ketinggian 500 kilometer. Ekor yang tampak adalah semburan gas roket selama melintasi atmosfer atas menuju antariksa. Roket ini diluncurkan dari pantai Yangjiang, Guangdong, China. Misinya adalah peluncuran satelit internet pada orbit sun-synchronous," bebernya.
Ia mengimbau agar masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa di masa mendatang. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang dapat diamati secara ilmiah, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan.