HALUANRAKYAT.com, SINTANG — Bagi sebagian masyarakat petani tradisional di Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, membuka lahan dengan cara menebas semak, menebang pohon, kemudian membakar sisa tanaman masih menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Cara tersebut diyakini masyarakat sebagai salah satu metode untuk menyuburkan tanah sekaligus mengurangi hama sebelum lahan ditanami padi.
Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Penyuluhan dan Pengendalian Satgas Karhutla TNI wilayah Kayan Hilir, Kolonel Arh Saptarendra Prasada, usai melakukan anjangsana dengan masyarakat Desa Jambu, Kecamatan Kayan Hilir, Sintang, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Sapta, hujan mulai mengguyur wilayah Kayan Hilir sejak Jumat malam (4/9/2026). Meski belum merata, hujan tersebut memberikan harapan bagi masyarakat yang tengah menunggu waktu untuk mulai menugal atau menanam padi.
“Hujan belum merata, namun memberikan secercah harapan. Hujan yang ditunggu masyarakat datang sehingga bisa melanjutkan nugal atau nanam padi,” ujar Sapta.
Ia menambahkan, hujan masih turun hingga Sabtu pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Kondisi tersebut diharapkan dapat terus berlanjut sehingga kebutuhan air untuk aktivitas pertanian masyarakat terpenuhi.
“Alhamdulillah, pagi ini hingga jam 07.30 WIB hujan juga. Semoga ke depan curah hujan semakin meningkat,” tambahnya.
Meski hujan turun, Satgas Karhutla TNI tetap melanjutkan kegiatan penyuluhan melalui anjangsana ke sejumlah desa. Salah satunya Desa Jambu yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kecamatan Kayan Hilir.
Dalam kunjungan tersebut, Sapta berdialog dengan Kepala Dusun Potai, Lobai, Ketua BPD Jambu, Jon Nado, serta sejumlah warga.
Dari pertemuan tersebut, diketahui bahwa pembakaran ladang masih dipandang masyarakat sebagai cara utama untuk menyuburkan tanah dan mencegah hama tanaman.
“Dari anjangsana dengan Kepala Dusun Potai Pak Lobai dan Ketua BPD Jambu Pak Jon Nado serta beberapa warga, bahwa bakar ladang yang dilakukan warga merupakan satu-satunya cara untuk menyuburkan tanah dan mencegah hama tanaman,” terang Sapta.
Ia mengatakan, praktik tersebut telah menjadi tradisi turun-temurun karena masyarakat setempat menerapkan pola bercocok tanam secara organik. Selain itu, karakteristik tanah mineral dengan tingkat keasaman yang tinggi serta keterbatasan pupuk menjadi salah satu alasan masyarakat masih mempertahankan metode tersebut.
“Ini merupakan tradisi turun-temurun karena masyarakat di sini bercocok tanam secara organik dan belum adanya pupuk yang bisa menyuburkan tanah di sini yang memiliki karakteristik tanah mineral dan tingkat keasaman tinggi,” imbuhnya.
Terkait potensi karhutla, Sapta menyebut intensitas kebakaran di wilayah Kayan Hilir relatif rendah. Hal ini karena sebagian besar masyarakat telah menyelesaikan penyiapan ladang sejak Juli dan saat ini memasuki tahapan menugal.
“Namun, menugal belum dilaksanakan karena menunggu hujan,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Jambu, Lobai, mengatakan aktivitas berladang dengan menanam padi merupakan tradisi sekaligus bagian dari upaya masyarakat memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
“Sebenarnya, berladang merupakan cara di sini untuk menyediakan pangan bagi warga, sehingga hasilnya tidak diperjualbelikan,” ujar Lobai.
Menurutnya, proses berladang mulai dari menebas, menebang hingga membakar membutuhkan biaya yang cukup besar, bahkan bisa mencapai belasan juta rupiah. Sementara hasil panen yang diperoleh rata-rata hanya sekitar 2 hingga 3 ton.
Lobai mengatakan, lahan yang tidak dibakar justru dinilai sulit menghasilkan tanaman padi dengan baik berdasarkan pengalaman masyarakat setempat.
“Kalau ladang enggak dibakar, kita tanam padi di situ enggak jadi apa-apa. Enggak tumbuh. Turun-temurun, mulai dari nenek moyang terdahulu ya, sampai istilahnya sekarang, bakar ladang itulah yang jadi pupuk,” ujarnya.
Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, tradisi berladang juga dinilai menjadi sarana mempertahankan budaya gotong royong dan kebersamaan masyarakat.
“Meski biayanya cukup tinggi, ini dilakukan juga untuk menjaga tradisi gotong royong dan kebersamaan masyarakat yang nanti puncaknya saat Pesta Gawai, setelah panen,” pungkas Lobai.
Dalam anjangsana tersebut, Sapta didampingi anggota Satgas Karhutla TNI, Kolonel Laut Chumaidi dan Kolonel Kes Robi Mandolin, serta Babinsa Koramil 1205-17/Kayan Hilir, Sertu Daniel.